Kegiatan ini dilaksanakan pada 21-22 September 2026 di tiga lokasi, Kampung Wisata Cinangneng, Model Kampung Konservasi Cisangku dan Kampung Ekowisata Citalahab, Kabupaten Bogor yang dihadiri oleh enam orang pengelola ekowisata Sukagalih, lima orang KWT Melati, lima orang Sawala Leuweung, dan empat orang Yayasan AKSARA.
Di hari pertama study banding, peserta mengunjungi dua lokasi yang dikelola oleh pelaku ekowisata. Kegiatan diawali dengan kunjungan ke Kampung Wisata Cinangneng. Pada kunjungan tersebut, para peserta diperkenalkan dengan sejarah awal berdirinya Kampung Wisata Cinangneng, termasuk proses dan perjalanan Ibu Hester Basoeki selaku pendiri dalam mengembangkan kawasan yang sebelumnya merupakan lahan tandus dan penuh bebatuan menjadi sebuah kampung wisata yang memiliki beragam potensi dan aktivitas wisata.
Selain mendapatkan penjelasan mengenai sejarah dan proses pengembangan Kampung Wisata Cinangneng, peserta juga diajak berkeliling untuk melihat secara langsung berbagai aktivitas dan fasilitas yang dikembangkan sebagai bagian dari pengalaman wisata. Peserta diperkenalkan dengan konsep wisata berbasis pengalaman yang mengangkat kehidupan masyarakat, lingkungan, budaya, serta aktivitas keseharian sebagai bagian dari daya tarik wisata.
Kunjungan ini memberikan pembelajaran bagi peserta mengenai bagaimana sebuah potensi lokal dapat dikembangkan secara bertahap menjadi produk wisata yang memiliki nilai edukasi sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat. Pengalaman tersebut juga menjadi bahan refleksi bagi peserta untuk melihat potensi yang dapat dikembangkan di Kampung Sukagalih, khususnya dalam mengintegrasikan aspek konservasi, edukasi, aktivitas masyarakat, dan pengalaman wisata ke dalam paket ekowisata yang sedang dikembangkan.
Setelah kunjungan di Kampung Wisata Cinangneng, kegiatan dilanjutkan dengan mengunjungi Model Kampung Konservasi (MKK) Cisangku. Pada kunjungan ini, peserta mendapatkan pembelajaran mengenai pengelolaan ekowisata berbasis konservasi dengan pendekatan yang berbeda. MKK Cisangku mengembangkan konsep ekowisata yang mengintegrasikan upaya pelestarian lingkungan dengan pemanfaatan potensi lokal secara berkelanjutan. Salah satu bentuk upaya konservasi yang dikenalkan adalah pelestarian pohon rasamala (Altingia excelsa) yang memiliki nilai ekologis bagi kawasan.
Selain aspek konservasi, MKK Cisangku juga mengembangkan berbagai potensi wisata dan produk berbasis masyarakat. Peserta diperkenalkan dengan Curug Kembar sebagai salah satu daya tarik wisata alam, serta pengembangan produk turunan kopi yang diolah secara tradisional oleh masyarakat yang dikenal dengan “Kopi Tumbuk”. Di bidang pertanian dan lingkungan, MKK Cisangku juga mengembangkan pupuk hayati mikoriza dan bokashi, serta menyediakan bibit tanaman untuk mendukung kegiatan penanaman dan penghijauan.
Melalui kunjungan tersebut, peserta memperoleh gambaran mengenai bagaimana potensi sumber daya alam dapat dikembangkan menjadi berbagai produk dan aktivitas yang saling terintegrasi. Pengelolaan tersebut tidak hanya berorientasi pada pengalaman wisata, tetapi juga mengedepankan upaya konservasi, pemanfaatan sumber daya secara berkelanjutan, serta keterlibatan masyarakat dalam menciptakan manfaat sosial dan ekonomi di tingkat lokal. Pengalaman dari MKK Cisangku menjadi pembelajaran penting bagi peserta dalam melihat peluang pengembangan ekowisata konservasi di Kampung Sukagalih yang dapat mengintegrasikan potensi alam, produk masyarakat, edukasi lingkungan, dan penguatan ekonomi lokal.
Pada hari kedua, peserta melanjutkan kegiatan study banding dengan mengunjungi Kampung Ekowisata Citalahab. Dalam pertemuan tersebut, para pengelola ekowisata Citalahab berbagi pengalaman mengenai proses pengembangan dan pengelolaan ekowisata yang berbasis pada konservasi dan keterlibatan masyarakat.
Peserta mendapatkan pemahaman mengenai berbagai aspek pengelolaan ekowisata, mulai dari mekanisme pengelolaan dan pembagian homestay yang melibatkan masyarakat setempat, hingga pengembangan aktivitas wisata berbasis edukasi. Salah satu kegiatan yang diperkenalkan adalah pembelajaran mengenai pengamatan keanekaragaman hayati, khususnya flora dan fauna yang terdapat di sekitar kawasan.
Selain mengembangkan aktivitas wisata berbasis alam, masyarakat Citalahab juga mengembangkan potensi hasil alam menjadi produk bernilai tambah. Salah satunya melalui pemanfaatan daun dan ranting yang diolah menggunakan teknik ecoprint dan telah dikembangkan oleh KWT Ambu Halimun. Pengembangan produk tersebut menunjukkan bagaimana potensi lokal dapat diolah menjadi produk kreatif yang memiliki nilai ekonomi sekaligus tetap memperhatikan prinsip pemanfaatan sumber daya secara berkelanjutan.
Berdasarkan rangkaian study banding yang dilakukan di tiga lokasi, peserta memperoleh berbagai pembelajaran mengenai pengembangan ekowisata yang dapat disesuaikan dengan potensi dan kondisi masing-masing wilayah. Ketiga lokasi tersebut menunjukkan pendekatan yang berbeda, namun memiliki kesamaan dalam mengembangkan potensi lokal melalui keterlibatan masyarakat, pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan, serta penciptaan aktivitas dan produk yang memberikan nilai tambah bagi masyarakat.
Dengan demikian, hasil study banding menjadi bahan pembelajaran dan refleksi bagi masyarakat Sukagalih dalam menyusun model ekowisata yang sesuai dengan karakter wilayahnya. Pengembangan ke depan dapat dilakukan dengan menghubungkan jalur trekking, interpretasi keanekaragaman hayati, pengelolaan homestay, produk hasil masyarakat, aktivitas edukasi, serta peran kelompok pemuda dan perempuan. Pendekatan tersebut diharapkan dapat membentuk paket ekowisata konservasi yang tidak hanya menawarkan pengalaman kepada pengunjung, tetapi juga memperkuat hubungan antara aspek ekologi, sosial, dan ekonomi masyarakat Kampung Sukagalih.






