AKSARA — Sebanyak 20 peserta dari Kelompok Tani Hutan (KTH), Kelompok Wanita Tani (KWT), dan Petani Milenial (Petmil) Sawala mengikuti kegiatan Pelatihan Teknik Entres dan Sambung Pucuk yang dilaksanakan di KTH Nurul Amal, Desa Gunung Endut, Kecamatan Kalapanunggal, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.
Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya peningkatan kapasitas masyarakat dalam pengembangan pembibitan tanaman secara mandiri. Pelatihan difokuskan pada pengenalan teknik perbanyakan tanaman secara vegetatif, khususnya melalui metode sambung pucuk, yang dapat digunakan untuk memperbanyak tanaman dengan memanfaatkan keunggulan tanaman induk dan batang bawah yang sehat.
Pelatihan dilaksanakan melalui metode penyampaian materi dan praktik langsung di lapangan. Peserta tidak hanya memperoleh penjelasan mengenai konsep dasar sambung pucuk, tetapi juga terlibat langsung dalam seluruh tahapan praktik.
Pada sesi awal, peserta mendapatkan penjelasan mengenai prinsip dasar perbanyakan tanaman secara vegetatif. Salah satu materi utama adalah mengenal fungsi batang bawah (rootstock) dan entres.
Batang bawah merupakan tanaman yang digunakan sebagai bagian dasar dalam proses penyambungan. Pemilihan batang bawah perlu memperhatikan kondisi kesehatan tanaman, pertumbuhan, serta kekuatan sistem perakarannya.
Sementara itu, entres merupakan bagian pucuk atau batang dari tanaman induk yang memiliki karakter unggul dan akan dikembangkan melalui proses penyambungan.
Peserta diberikan pemahaman mengenai pentingnya memilih bahan tanaman yang baik. Batang bawah dan entres yang sehat menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan keberhasilan sambung pucuk.
Selain itu, peserta juga diperkenalkan dengan beberapa kriteria bahan yang layak digunakan, seperti kondisi tanaman yang sehat, bebas dari serangan penyakit, memiliki pertumbuhan yang baik, serta ukuran batang yang sesuai.
Setelah sesi penyampaian materi, kegiatan dilanjutkan dengan demonstrasi dan praktik sambung pucuk.
Peserta diperlihatkan tahapan teknis mulai dari menyiapkan alat, membersihkan pisau okulasi, memilih batang bawah, menyiapkan entres, hingga melakukan penyambungan.
Tahapan praktik meliputi:
Pemilihan batang bawah yang sehat;
Pemilihan entres dari tanaman induk yang baik;
Persiapan dan sterilisasi alat;
Pemotongan batang bawah;
Pembuatan sayatan pada batang bawah dan entres;
Penyatuan bagian tanaman;
Penyesuaian posisi kambium;
Pengikatan menggunakan plastik grafting; serta
Pemeliharaan bibit hasil sambungan.
Salah satu bagian penting yang ditekankan dalam pelatihan adalah ketepatan dalam mempertemukan kambium antara batang bawah dan entres. Pertemuan jaringan tanaman yang tepat menjadi salah satu faktor yang menentukan keberhasilan proses penyatuan.
Bagian utama dari kegiatan adalah praktik langsung oleh peserta.
Sebanyak 20 peserta dari KTH, KWT, dan Petani Milenial Sawala mendapatkan kesempatan untuk mencoba sendiri teknik sambung pucuk. Proses belajar berlangsung secara interaktif. Peserta tidak hanya melihat demonstrasi, tetapi memegang alat, menyiapkan bahan, membuat sayatan, dan melakukan penyambungan secara langsung.
Pada tahap awal, beberapa peserta masih terlihat berhati-hati ketika menggunakan pisau okulasi. Membuat sayatan yang bersih dan sesuai ternyata membutuhkan ketelitian dan latihan.
Sebagian peserta harus mengulang proses penyayatan karena hasil pertama belum cukup rata. Ada juga yang perlu memperbaiki posisi entres sebelum melakukan pengikatan. Kondisi tersebut menjadi bagian penting dari proses pembelajaran.
Teknik sambung pucuk merupakan keterampilan yang membutuhkan praktik berulang. Pelatihan memberikan dasar pengetahuan dan contoh teknik, sementara pengalaman langsung membantu peserta memahami karakter bahan tanaman dan membangun keterampilan melalui proses mencoba.
Bagi Piah, perwakilan dari Kelompok Wanita Tani (KWT), keterlibatan perempuan dalam pelatihan menjadi kesempatan penting untuk memperoleh keterampilan baru.
Menurutnya, selama ini kegiatan pembibitan dan teknik-teknik seperti sambung pucuk sering dianggap sebagai pekerjaan yang lebih banyak dilakukan oleh laki-laki. Padahal, perempuan juga memiliki peran besar dalam kegiatan pertanian dan pengelolaan tanaman di tingkat rumah tangga maupun kelompok.
“Bagi kami dari KWT, pelatihan seperti ini sangat bermanfaat karena kami bisa belajar langsung. Awalnya memang agak takut menggunakan pisau dan membuat sayatan, tetapi setelah mencoba ternyata bisa dipelajari. Tinggal terus latihan,” ujar Piah.
Ia berharap keterampilan tersebut tidak berhenti setelah pelatihan.
“Kami ingin mencoba lagi di kebun atau di tempat pembibitan. Kalau sudah bisa, mudah-mudahan ibu-ibu yang lain juga bisa ikut belajar. Jadi ilmu ini tidak hanya berhenti pada peserta yang hadir hari ini,” tambahnya.
Keterlibatan KWT dalam kegiatan ini menunjukkan bahwa penguatan kapasitas pembibitan dapat dilakukan secara lebih inklusif dengan membuka ruang belajar bagi berbagai kelompok masyarakat.
Sementara itu, Irwan, perwakilan dari Kelompok Tani Hutan (KTH), menilai keterampilan sambung pucuk memiliki manfaat yang cukup besar bagi kelompok tani.
Menurutnya, kebutuhan bibit tanaman, terutama tanaman buah dan tanaman bernilai ekonomi, terus menjadi perhatian masyarakat dalam pengembangan kebun dan lahan agroforestri.
“Selama ini kalau membutuhkan bibit, kadang kami harus mencari atau membeli dari luar. Kalau anggota kelompok punya kemampuan membuat bibit sendiri, tentu ini menjadi keuntungan bagi kelompok,” kata Irwan.
Menurutnya, keterampilan tersebut dapat menjadi langkah awal untuk membangun pembibitan secara mandiri.
“Yang penting setelah pelatihan ini jangan berhenti. Harus terus dipraktikkan. Kalau hanya satu kali mencoba, kemungkinan kita masih lupa. Tapi kalau sering dilakukan, lama-lama akan terbiasa,” ujarnya.
Ia juga berharap ke depan kelompok dapat memiliki lokasi pembibitan bersama yang dapat digunakan untuk memproduksi batang bawah dan mengembangkan bibit hasil sambung pucuk.
Sebagai narasumber dalam kegiatan tersebut, Ujang Hamdan, S.P., menekankan bahwa keberhasilan sambung pucuk tidak hanya ditentukan oleh alat dan bahan, tetapi juga oleh ketelitian peserta dalam setiap tahapan.
Menurut Ujang, pemilihan batang bawah dan entres menjadi tahap awal yang sangat penting.
“Batang bawah harus sehat, begitu juga entresnya. Jangan mengambil bahan secara sembarangan. Kita harus melihat kondisi tanaman dan memastikan bahan yang digunakan memang layak untuk disambungkan,” jelasnya.
Ia juga menekankan pentingnya pertemuan kambium dalam proses penyambungan.
“Bagian kambium harus diperhatikan. Kalau sambungannya tidak tepat, kemungkinan keberhasilannya akan lebih kecil. Karena itu, peserta harus belajar membuat sayatan yang baik dan menyatukan kedua bagian tanaman dengan benar,” kata Ujang.
Menurutnya, peserta tidak perlu berkecil hati apabila hasil praktik pertama belum berhasil.
“Sambung pucuk itu keterampilan. Tidak cukup hanya melihat sekali kemudian langsung mahir. Harus berulang kali mencoba. Kalau gagal, lihat penyebabnya, kemudian coba lagi. Dari situ biasanya kemampuan akan berkembang,” tambahnya.
Ujang berharap peserta dapat terus mempraktikkan teknik yang telah dipelajari dan mulai mengembangkan sumber bahan tanaman secara mandiri di tingkat kelompok.
Mewakili Yayasan Aksi Konservasi Bersama Rakyat (AKSARA), Asep M-Rhe menyampaikan bahwa kegiatan peningkatan kapasitas masyarakat harus diarahkan pada proses pembelajaran yang berkelanjutan.
Menurutnya, pelatihan bukan sekadar kegiatan untuk menyampaikan materi dan memberikan pengetahuan dalam satu hari.
“Yang paling penting dari kegiatan ini adalah apa yang dilakukan peserta setelah pulang dari pelatihan. Kami berharap keterampilan ini benar-benar dipraktikkan kembali di kebun dan di kelompok masing-masing,” ujarnya.
Asep menjelaskan bahwa AKSARA mendorong adanya tindak lanjut berupa praktik mandiri dan monitoring hasil sambung pucuk.
“Peserta perlu mencoba lagi, melakukan beberapa kali penyambungan, kemudian melihat hasilnya. Dari situ kita bisa mengetahui bagian mana yang sudah dikuasai dan bagian mana yang masih membutuhkan pendampingan,” katanya.
Menurut Asep, keterampilan pembibitan juga memiliki hubungan dengan pengembangan pertanian dan agroforestri berbasis masyarakat.
“Kalau masyarakat secara bertahap mampu menyediakan bibit sendiri, ini bisa menjadi modal penting. Tidak hanya untuk kebutuhan penanaman, tetapi juga bisa berkembang menjadi kegiatan ekonomi produktif di tingkat kelompok,” tambahnya.
Ia berharap keterampilan yang diperoleh oleh 20 peserta dapat terus menyebar kepada anggota kelompok dan masyarakat lainnya.
“Harapannya ilmu ini tidak berhenti pada 20 orang. Peserta yang sudah bisa nantinya dapat mengajak dan mengajarkan anggota lain. Dengan begitu, proses belajar akan terus berkembang di masyarakat,” katanya.
Keterampilan sambung pucuk memiliki manfaat penting bagi pengembangan pembibitan tanaman buah.
Melalui penguasaan teknik ini, masyarakat diharapkan dapat secara bertahap meningkatkan kemampuan dalam menyediakan bibit untuk kebutuhan kelompok.
Ketersediaan bibit yang baik dapat mendukung berbagai kegiatan, antara lain:
- Pengembangan kebun buah masyarakat;
- Penerapan sistem agroforestri;
- Pengayaan tanaman di lahan masyarakat;
- Rehabilitasi dan penghijauan lahan;
- Diversifikasi jenis tanaman;
- Pengembangan tanaman bernilai ekonomi; serta
- Pengembangan usaha pembibitan berbasis kelompok.
Dalam konteks pengelolaan lahan masyarakat, pengembangan tanaman buah melalui sistem agroforestri dapat menjadi salah satu alternatif untuk menggabungkan manfaat ekonomi dan ekologis.
Dalam praktik sambung pucuk, tidak semua sambungan dapat langsung berhasil.
Ada berbagai faktor yang dapat memengaruhi keberhasilan, mulai dari kondisi batang bawah dan entres, ketepatan sayatan, posisi kambium, teknik pengikatan, hingga pemeliharaan setelah proses penyambungan.
Karena itu, peserta juga didorong untuk memahami bahwa kegagalan merupakan bagian dari proses belajar.
Bibit yang tidak berhasil dapat menjadi bahan evaluasi. Peserta dapat melihat kembali apakah entres yang digunakan masih segar, apakah posisi sambungan sudah tepat, atau apakah terdapat kesalahan dalam proses pengikatan.
Dengan melakukan evaluasi sederhana, peserta dapat memperbaiki teknik pada praktik berikutnya.
Sebagai tindak lanjut, peserta didorong untuk melakukan praktik mandiri sambung pucuk di kebun maupun persemaian kelompok.
Praktik mandiri diharapkan dapat membantu peserta memperkuat keterampilan melalui pengulangan. Peserta dapat kembali mencoba teknik yang telah dipelajari menggunakan bahan tanaman yang tersedia di lingkungan masing-masing.
Peserta juga didorong untuk melakukan pencatatan sederhana mengenai:
- Jenis tanaman;
- Asal batang bawah;
- Asal entres;
- Jumlah sambungan;
- Tanggal pelaksanaan;
- Kondisi bibit; dan
- Tingkat keberhasilan sambungan.
Pencatatan ini penting sebagai bahan pembelajaran dan evaluasi.
Setelah proses penyambungan selesai, bibit perlu mendapatkan pemeliharaan dan monitoring secara berkala.
Beberapa hal yang perlu diamati antara lain kondisi entres, kekuatan sambungan, munculnya tunas baru, perkembangan daun, serta kemungkinan adanya gangguan hama dan penyakit.
Hasil monitoring akan memberikan gambaran mengenai tingkat keberhasilan praktik sekaligus menjadi bahan evaluasi untuk kegiatan pendampingan berikutnya.
Ke depan, peserta yang telah memiliki keterampilan lebih baik diharapkan dapat menjadi penggerak pembelajaran di kelompok masing-masing.
Dengan demikian, pengetahuan yang diperoleh dari pelatihan tidak berhenti pada 20 peserta.
Pengetahuan dapat berkembang dari satu peserta kepada anggota kelompok lainnya, dari satu kebun ke kebun lainnya, dan secara bertahap memperkuat kemampuan masyarakat dalam pengembangan pembibitan.
Melalui kegiatan peningkatan kapasitas seperti ini, Yayasan Aksi Konservasi Bersama Rakyat (AKSARA) terus mendorong penguatan keterampilan masyarakat sebagai bagian dari pengembangan pertanian, agroforestri, dan pengelolaan sumber daya alam yang produktif serta berkelanjutan.
Pelatihan Teknik Entres dan Sambung Pucuk di KTH Nurul Amal menjadi salah satu langkah untuk membangun kemampuan masyarakat dalam menyediakan dan mengembangkan bibit secara lebih mandiri.
Keberhasilan kegiatan tidak hanya diukur dari jumlah sambungan yang berhasil dibuat pada hari pelatihan.
Keberhasilan yang lebih penting adalah ketika peserta membawa pulang pengetahuan tersebut, kemudian mencoba kembali di kebunnya, melakukan praktik secara berulang, belajar dari kesalahan, dan pada akhirnya mampu menghasilkan bibit secara mandiri.


Dari sebuah entres yang disambungkan ke batang bawah, tumbuh harapan yang lebih besar: masyarakat yang semakin terampil, kelompok yang semakin mandiri, serta pengelolaan lahan yang mampu memberikan manfaat ekonomi tanpa meninggalkan prinsip keberlanjutan.




