AKSARA - Jalur trekking Ekowisata Sukagalih kini memiliki cara baru untuk memperkenalkan kehidupan hutannya kepada pengunjung. Sejumlah papan interpretasi dipasang di berbagai titik sepanjang jalur trekking oleh Kelompok Pelestarian Lingkungan (KTH) KOPEL bersama Yayasan Aksi Konservasi Bersama Rakyat (AKSARA) pada Minggu 13 Septemer 2026.
Papan-papan tersebut memuat informasi mengenai berbagai unsur penting dalam lanskap Sukagalih, mulai dari tegakan pohon damar, tumbuhan obat, lokasi pengamatan elang dan primata, hingga Ekosistem Sungai Citamiang. Selain mengenalkan kekayaan alam, papan interpretasi juga mengangkat cerita mengenai peran masyarakat dalam pengelolaan kawasan melalui Perhutanan Sosial KTH KOPEL.
Kehadiran papan interpretasi ini merupakan bagian dari upaya mengembangkan Ekowisata Sukagalih tidak hanya sebagai ruang rekreasi, tetapi juga sebagai ruang belajar terbuka bagi pengunjung.
Selama menyusuri jalur trekking, pengunjung kerap melewati pohon-pohon besar, mendengar suara aliran sungai, atau melihat tajuk hutan tanpa mengetahui lebih jauh kehidupan yang berlangsung di dalamnya. Melalui papan interpretasi, berbagai cerita tersebut dihadirkan secara langsung di lokasi yang memiliki keterkaitan dengan informasi yang disampaikan.
Di kawasan tegakan damar, misalnya, pengunjung dapat mengenal lebih dekat keberadaan pohon yang menjadi bagian dari lanskap Sukagalih. Pada titik tertentu, informasi mengenai elang dan primata mengajak pengunjung untuk lebih peka terhadap kehidupan satwa yang berada di sekitar kawasan hutan, termasuk Surili, Lutung, dan Owa Jawa.
Sementara itu, di sekitar Sungai Citamiang, pengunjung diperkenalkan pada fungsi sungai sebagai bagian penting dari ekosistem. Sungai bukan sekadar aliran air yang menemani perjalanan, tetapi merupakan habitat bagi berbagai organisme air tawar dan bagian dari jaringan kehidupan yang saling terhubung.
Menurut Sugiri, perwakilan KTH KOPEL, keberadaan papan interpretasi diharapkan dapat membantu pengunjung memahami kawasan Sukagalih secara lebih dekat, sekaligus mengenal peran masyarakat dalam menjaga kawasan hutan.
“Kami berharap papan interpretasi ini tidak hanya menjadi penunjuk atau tambahan fasilitas di jalur trekking. Pengunjung bisa mengetahui apa yang ada di sekitar mereka, mengenal potensi hutan, dan memahami bahwa masyarakat juga memiliki peran dalam menjaga kawasan ini. Jadi, ketika datang ke Sukagalih, mereka bukan hanya menikmati alam, tetapi juga membawa pulang pengetahuan dan kepedulian terhadap lingkungan,”ujar Sugiri.
Hal senada disampaikan Asep M-Rhe, perwakilan Yayasan AKSARA. Menurutnya, interpretasi menjadi bagian penting dalam membangun pengalaman ekowisata yang tidak hanya berorientasi pada kunjungan, tetapi juga pada proses belajar dan membangun kesadaran.
“Kami ingin jalur trekking ini menjadi ruang belajar yang hidup. Ketika pengunjung membaca informasi tentang damar, satwa, sungai, atau masyarakat, kemudian melihat langsung objeknya, diharapkan muncul hubungan yang lebih kuat antara pengunjung dengan lanskap Sukagalih. Dari mengenal, kemudian memahami, dan pada akhirnya tumbuh kepedulian untuk ikut menjaganya,” kata Asep M-Rhe.
Pemasangan papan interpretasi dilakukan secara bersama-sama oleh anggota KTH KOPEL dan tim AKSARA. Setiap papan ditempatkan dengan mempertimbangkan kondisi dan karakteristik lokasi agar informasi yang disampaikan dapat memberikan pengalaman belajar yang lebih kontekstual. Pengunjung tidak hanya membaca informasi, tetapi juga dapat melihat langsung objek atau lanskap yang sedang diceritakan.
Lebih dari sekadar informasi mengenai flora dan fauna, papan interpretasi juga membawa cerita tentang masyarakat yang hidup berdampingan dengan kawasan hutan. KTH KOPEL melalui skema Kemitraan Konservasi menjadi bagian dari upaya menunjukkan bahwa pelestarian kawasan dapat berjalan bersama dengan peran dan penghidupan masyarakat di sekitar hutan.
Dengan demikian, jalur trekking Ekowisata Sukagalih diharapkan dapat menghadirkan pengalaman yang lebih utuh: berjalan, mengamati, belajar, dan memahami.
Setiap pohon memiliki peran. Setiap satwa memiliki ruang hidup. Setiap aliran sungai memiliki fungsi. Dan di antara semuanya, terdapat masyarakat yang turut menjadi bagian dari lanskap tersebut.
Kehadiran papan interpretasi menjadi langkah kecil untuk mengajak lebih banyak orang melihat Sukagalih bukan hanya sebagai tempat untuk dikunjungi, tetapi sebagai lanskap kehidupan yang perlu dihargai dan dijaga bersama.
Sebab, perjalanan di Sukagalih tidak selalu tentang seberapa jauh kaki melangkah atau seberapa cepat sampai di tujuan. Terkadang, perjalanan menjadi lebih bermakna ketika kita berhenti sejenak, membaca sebuah cerita, melihat sekeliling, lalu menyadari bahwa hutan yang kita lalui menyimpan kehidupan yang jauh lebih besar dari apa yang terlihat.


Sukagalih tidak hanya dapat dinikmati melalui mata. Sukagalih juga dapat dikenali melalui cerita. Leuweung Hejo, Masyarakat Ngejo.



