Di tajuk pepohonan hutan yang masih hijau, sekelompok lutung jawa (Trachypithecus auratus) tampak bergerak lincah dari satu dahan ke dahan lainnya. Primata endemik Pulau Jawa ini menjadi salah satu penanda penting kesehatan ekosistem hutan. Kehadirannya menunjukkan bahwa kawasan tersebut masih memiliki tutupan vegetasi yang cukup baik untuk menopang kehidupan satwa liar.
Di sekitar Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS), lutung jawa masih dapat dijumpai di kawasan hutan dan koridor alami yang menghubungkan habitat satwa. Beberapa desa penyangga seperti Cipeuteuy, Mekarjaya, Cihamerang, Cianaga, dan Pulosari berada dalam lanskap penting yang menjadi jalur pergerakan satwa dari satu blok hutan ke blok lainnya.
Penelitian mengenai koridor ekologis Halimun–Salak mencatat bahwa lutung jawa merupakan salah satu primata yang memiliki sebaran cukup luas di kawasan ini. Dalam beberapa pengamatan lapangan, keberadaan kelompok lutung tercatat di area koridor hutan yang berdekatan dengan desa-desa penyangga, termasuk wilayah Cipeuteuy dan Cihamerang di Kabupaten Sukabumi. Hal ini menunjukkan bahwa lanskap desa dan hutan masih memiliki konektivitas ekologis yang memungkinkan satwa berpindah dan mencari pakan.
Kesaksian warga juga menguatkan keberadaan satwa ini di kawasan tersebut. Kosim (51), warga Desa Cipeuteuy, mengatakan bahwa lutung jawa masih sering terlihat di kawasan koridor yang menghubungkan Gunung Salak dan Gunung Halimun.
"Lutung masih sering dijumpai di kawasan koridor penghubung Gunung Salak dan Halimun. Mereka biasanya keluar pagi dan sore hari. Untuk jumlah populasi pastinya kami tidak tahu, tapi satwa ini cukup mudah dijumpai. Biasanya mereka bergerombol dalam kelompok dan sampai sekarang tidak mengganggu pemukiman warga ataupun kebun dan ladang masyarakat," ujarnya.
Secara ekologis, lutung jawa memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan hutan. Primata pemakan daun, buah, dan bunga ini membantu proses penyebaran biji dan regenerasi vegetasi hutan. Dengan aktivitasnya di tajuk pohon, lutung juga menjadi bagian dari rantai kehidupan yang menjaga keberlanjutan ekosistem hutan tropis di Pulau Jawa.
Namun keberadaan lutung jawa tidak sepenuhnya aman. Fragmentasi habitat akibat pembukaan lahan, perluasan pertanian, serta aktivitas manusia di sekitar kawasan hutan menjadi ancaman serius bagi kelangsungan hidupnya. Ketika tutupan hutan terputus, jalur pergerakan satwa juga terganggu sehingga kelompok lutung menjadi semakin terisolasi.
Karena itu, desa-desa penyangga seperti Cipeuteuy, Mekarjaya, Cianaga, dan Pulosari memiliki peran strategis dalam menjaga keberlanjutan lanskap TNGHS. Melalui berbagai program kemitraan konservasi dan pengelolaan hutan berbasis masyarakat, warga desa didorong untuk menjaga tutupan pohon, melakukan penanaman kembali, serta mengelola lahan secara lebih ramah lingkungan.
Keberadaan lutung jawa di sekitar desa penyangga TNGHS menjadi pengingat bahwa hutan dan manusia memiliki hubungan yang saling bergantung. Ketika hutan tetap terjaga, satwa liar masih memiliki rumah untuk hidup. Sebaliknya, keberlanjutan hutan juga menjadi penopang sumber air, udara bersih, dan kehidupan bagi masyarakat di sekitarnya.


